LOGO KEGIATAN HIMMAKA

Logo kegiatan HIMMAKA ketika mengisi liburan semester. TRY OUT dan TRAINING MOTIVATION.

KEGIATAN KECAP

Foto bersama setelah kegiatan KECAP.

FOTO KEGIATAN TRY OUT dan TRAINING MOTIVATION

Foto bersama: Anggota HIMMAKA dan Kepala Dinas Pendidikan .

FOTO KETUM HIMMAKA

FOTO ketum dan yang di belakangnya lagi numpang GAYA AJA.

MAKAN BERSAMA

FOTO makan bersama setelah lelah melaksanakan kegiatan.

EKSIS nieeeee

Numpang eksis akhhh hehehe.

Mengenang BAKSOS

FOTO kegiatan baksos di cipicung .

Sabtu, 09 Maret 2013

Project Antologi Cerpen

Assalamu'alaikum,
Selamat Pagi dulur-dulur Himmaka sekalian!
Perkenalkan, saya Admin yang baru.

Kali ini, saya akan memberikan sebuah info sekaligus pengumuman bagi dulur-dulur semua.
Dengan meninjau kreativitas beberapa anggota Himmaka yang Hobby menulis, maka Admin beserta Bidang Komedi (Komunikasi dan Media) bekerjasama untuk membuat sebuah Buku Antologi Cerpen yang bertemakan "Aku dan Himmaka". Rencananya, akan diambil 25 Naskah Cerpen yang akan dibukukan ke penerbit.

Untuk pengaturan Naskahnya adalah sebagai berikut :
  1. Ditulis di Ms Word
  2. Panjang Naskah 6-8 Halaman A4
  3. Margin top=3, left=4, right=3, bottom=4
  4. Diketik Font TImes New Roman, 12, spasi 1.5
  5. Batas waktu pengumpulan naskah tidak terbatas, hingga 25 naskah layak terkumpul. Apabila naskahnya sudah mencukupi, akan diseleksi. Kalau dari hasil seleksi masih belum mencukupi target 25 Naskah, maka akan dibuka lagi pendaftarannya.
  6. Contact Person: 089637107827 (Nugie)
 Insya' Alloh naskah yang sudah terkumpul akan ditindaklanjuti ke tingkat penerbit. Jadi, tunggu apa lagi? Buruan Kirim!!

Nantinya, Buku ini akan menjadi Bukti Keberadaan Himmaka Bandung di Mata Dunia, khususnya di Mata Majalengka tercinta . . !

Sabtu, 10 November 2012

Susunan Kepengurusan HIMMAKA Bandung 2012-2013


Dengan terus berjalannya waktu, masa bhakti kepengurusan Himmaka Bandung untuk periode 2011-2012 alhamdulillah telah selesai dan bisa dipertanggungjawabkan dengan semua kinerja yang telah dilakukan dan dicapai selama satu periode penuh. Kader-kader baru kian bermunculan dan naik untuk meneruskan estapeta tongkat kepengurusan di masa bhakti 2012-2013.

Tepat ditanggal 4 November 2012, alhamdulillah dengan penuh dengan rasa bangga dan penuh harap Iji Jaelani menjadi Ketua Umum HIMMAKA Bandung terpilih untuk masa bhakti 2012-2013. Mengusung visi "HIMMAKA BERGEMA" kang iji ini ingin membesarkan HIMMAKA dengan semangat duduluran, yaitu "Bersama-Gemilang-Maju". Pelantikan kepengurusanpun telah dilaksanakan dengan mengucap ikrar janji sebagai awal komitmen pengurus dalam membesarkan HIMMAKA . Berikut adalah susunan kepengurusan Himmaka Bandung untuk massa bhakti 2012-2013:


SUSUNAN KEPENGURUSAN 
HIMMAKA BANDUNG
PERIODE 2012-2013
Ketua Umum            : Iji Jaelani
Sekretaris Umum     : Arief Martianto Suherman
Bendahara Umum    : Dewi Tamilah

1. Bidang Pengembangan Aparatur Organisasi (PAO)
    Ketua Bidang          : Taufik Hidayat
    Sekretaris Bidang   : Titin
    Anggota Bidang      : Ery, Pepi, Tika, Andi, Beti

2. Bidang Nalar dan Intelektual
    Ketua Bidang           : Fahmi Nurul Iman
    Sekretaris Bidang   : Dian Nurjanah
    Anggota Bidang       : Azis, Ica, Dwi Tiara, Riki Rikjan, Mira

3. Bidang Analisis Daerah
    Ketua Bidang          : Irfan Nurohim
    Sekretaris Bidang  : Intan
    Anggota Bidang      : Adi, iis, Anisa, Hana, Devi

4. Bidang Minat dan Bakat
    Ketua Bidang          : Rifelda Fanka El R
    Sekretaris Bidang   : Nur Indah
    Anggota Bidang      : Riki, Noni, Dewi Eka, Dewi Ulfah, Rivan

5. Bidang Kesejahteraan Anggota
    Ketua Bidang          : Lusi Nursifah
    Sekretaris Bidang   : Hani Solihah
    Anggota Bidang      : Risa, Tita, Iwan, Fihri, Windi

6. Bidang Komunikasi dan Media
    Ketua Bidang          : Dwi Aprianti Sumantri
    Sekretaris Bidang   : Euis Rahmawati
    Anggota Bidang      : Nurlela, Lela, Nugi, Yoga, Maya 
(dilantik pada tanggal 9 November 2012)

Mudah-mudahan bisa terus menjaga siloditas dan loyalitas terhadap HIMMAKA untuk lemah cai Majalengka.

_Himmaka Baktiku..Baktiku Majalengka_

Rabu, 23 Mei 2012

Bunderan Munjul sebagai Taman Kota Di Kabupaten Majalengka


Patung ikan ditengah-tengah kolam Bunderan Munjul

Majalengka, Kota Angin yang tetap sangat indah bagi warganya. Tersusun rapi setiap persimpangan jalan, budaya sunda yang amat dekat dengan tanah ini. Daerah yang masih berusaha meremajakan setiap susunan masyarakatnya, menjadikan Majalengka sebagai salah satu kabupaten yang sangat potensial. Terdapat banyak potensi seperti, tempat wisata sampai kebudayaan yang jarang sekali dilihat orang luar.
mari kita mengenal lebih banyak tentang Kabupaten Majalengka. Siapa yang tidak mengenal taman yang menyambut setiap warga luar kota ke kawasan Pemda Majalengka, yaitu Bunderan Munjul dan taman disekitarnya. Terlihat sangat sederhana, namun tempat ini dijadikan tempat yang paling nyaman bagi warga Majalengka. Tak ada yang menyangka bila disiang hari tempat ini sangatlah gersang dan sepi, hanya terdapat kendaraan-kendaraan yang melintas dari arah Kadipaten atau sebaliknya. Tapi bila sore hari menjelang maghrib, masyarakat tumpah ruah ditempat ini. Anak-anak sampai orang tua semuanya menyempatkan diri berkumpul dan menghabiskan waktu di Bunderan kebangaan Kepala Daerah ini.
Bukan hanya masyarakat, namun para pedagangpun meramaikan hangatnya Bunderan yang terdapat patung ikannya. Saat sore tiba, air yang menyejukan tanah panas Majalengka menambah kenyamanan warga menghabiskan waktunya. Anak-anak berlarian, para remaja berkumpul sambil berfoto-foto didepan patung ikan. Tidak jarang banya kelompok-kelompok atau komunitas berkumpul disini, namun jangan khawatir bila kehabisan tempat untuk nongkrong. Karena terdapat tempat alternatif lainnya, tidak jauh karena terdapat disekitar Bunderan Munjul. Seperti Taman Kota Majalengka yang berada disebelah Bunderan Munjul, sangat indah dan nyaman untuk berkumpul bersama keluarga dan menghabiskan waktu.
Keindahan Majalengka tetap harus dijaga, karena sudah kebiasaan disaat sore banyak orang berkumpul maka banyak pula sampah-sampah yang membuat Bunderan Munjul ini terlihat tidak baik. Maka dari itu, selain kita menikmati keindahan haruslah ditambah dengan cara menjaga keindahannya. Semoga dengan adanya taman-taman di Kabupaten Majalengka, membuat warga semakin cinta dengan tanah ini.

oleh Degi Ergiawan Munggaran

Diskusi CIAYUMAJAKUNING Tentang Nasionalisme



UIN, Bandung.
Organisasi Daerah Mahasiswa CIAYUMAJAKUNING menyelenggarakan kegiatan Silaturahim dan Diskusi Panel, kegiatan ini guna memperingati Hari Kebangkitan Nasional ditaman kampus Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati bandung, Minggu (20/5). Kegiatan yang asal mulanya berada pada konsep silaturahim ini berkembang menjadi diskusi panel yang menghadirkan para senior dan alumni dari setiap Organisasi daerah.
Terdiri dari empat Orda (Organisasi Daerah), diantaranya IKMAWATI (Ikatan Mahasiswa Warga Cirebon), IKA DARMA AYU (Ikatan Mahasiswa Indramayu), HIMMAKA (Himpunan Mahasiswa Majalengka) dan KMK (Keluarga Mahasiswa Kuningan). Hal yang pertama terjadi Di Bandung, 4 Orda yang sangat hangat diperbincangkan dari sisi kedaerahannya yang disebut wilayah 3 Cirebon.
Bukan untuk membicarakan pembentukan Provinsi Cirebon yang sangat santer dibicarakan ditiap daerahnya masing-masing, namun lebih memusatkan diri pada budaya lokal yang dapat membangkitkan rasa nasionalisme. Pentingnya budaya lokal menjadi tema utama pada diskusi panel ini, sangat beralasan jika berbicara tentang kekayaan budaya di CIAYUMAJAUNING.
Meskipun mahasiswa adalah masyarakat yang memiliki intelektual yang lebih dari masyarakat lainnya, namun pengetahuan akan rasa nasionalisme terasa sangat merekat disaat berhubungan dengan rasa memiliki budaya disetiap individu. Terselenggaranya kegiatan ini memperpanjang keberadaan orda dan eksistensi mahasiswa dalam melestarikan kebudayaan yang kian hari kian hiang dari kepala masyarakat saat ini. Jalinan silaturahim antar mahasiswa CIAYUMAJAKUNING akan senantiasa memberikan semua hal yang terbaik dalam perubahan paradigma tentang rasa nasionalisme.
Silaturahmi dan Diskusi Panel ini bertemakan “Aktualisasi diri Melalui Budaya Lokal Untuk Membangkitkan Semangat Nasionalisme”. Dimulai dari peran mahasiswa dalam memahami arti Nasionalisme, berakhir pada pembicaraan tentang pemahaman hidup ditanah nusantara. Salah satu diskusi yang menarik adalah saat pemateri wakil HIMMAKA, Ridwan, bertanya pada audien tentang arti dari Nasionalisme. “tema yang cukup bagus, namun dari tema tersebut siapakah yang dimaksud diri?”, tanyanya. Sontak seluruh audien terdiam dan bertanya-tanya jawabanya, namun dengan adanya pertanyaan tersebut para mahasiswa ini menyadari bahwa diri mereka sendirilah yang harus menjadi diri dalam tema tersebut.
Kebudayaan lokal yang sangat merekat pada setiap diri masyarakat menjadi alasan kuat jika dihubungkan dengan rasa nasionalisme. Semoga dengan terselenggaranya kegiatan ini dapat menutupi perbincangan yang mulai panas terkait pembentukan Provinsi Cirebon, karena sangat penting sekali disaat insan-insan akademis ini memberikan semangat nasionalisme dengan kebudayaan lokal yang harus tetap menjadi identitas setiap warga negara.

Selasa, 22 Mei 2012

Salam HIMMAKA .......!!!!!



Loyalitas, tanggung jawab itu yang sering kita dengar untuk kemajuan organisasi. Tak perlu bosan mendengar dua kata tersebut. Sama halnya untuk HIMMAKA Bandung. Meski telah banyak moment-moment yang terlewatkan untuk ditulis sebagai catatan penting HIMMAKA Namun, kata terlambat tak begitu penting rasanya. Masih banyak waktu unuk mencoba mengisi kekosongan itu.
Untuk Periode 2011-2012, HIMMAKA Bandung dibawah pimpinan Redi Rohaedi selaku ketua umum, didampingi oleh Asep Zaenal Muttaqin (sekretaris umum) dan Lena Laelatul Mahen (bendahara umum).
Pada awal kepengurusannya, program beasar yang pertama kali dilaksanakan adalah Try Out dan Temu Pelajar tingkat SMA se-Kabupaten Majalengka pada tanggal 22 Januari 2012, bertempat di aula SKB (Sanggar Kegiatan Belajar) Majalengka. Dengan bertemakan "Ujian Nasional??? Siapa Takut !!!", kegiatan ini memiliki tujuan utama untuk membantu kesiapan siswa-siswi SMA se-Kabupaten Majalengka untuk menghadapi Ujian Nasional baik dari segi mental dan kematangan dalam menghadapi soal-soal. Meskipun ini merupakan kegiatan perdana bagi kepengurusan kang Redi Rohaedi, kegiatan ini meraih kesuksesan dan respon yang sangat baik dari Dianas Pendidikan Kabupaten Majalengka, dan terutama para saiswa dan siswi SMA se-Kabupaten Majalengka. Hal ini dapat dilihat dari kuota peserta yang hadir sekitar 230 peserta dari 300 kursi yang disediakan oleh panitia. Kesuksesan kegiatan ini tidak terlepas dari kerja sama berbagai pihak, dari mulai jajaran panitia, pengisi acara, dan pihak sponsor yang telah mendukung acara Try Out dan Temu Pelajar ini. Pada acara ini, HIMMAKA Bandung berhasil menjalin kerja sama dengan beberapa sponsor. Diantaranya Alfamart, Radika 100,3 FM, Pikiran Rakyat, Ganesha Operation, Sosro, RRI Cirebon. Ini hanya sebagian dari hasil kerja keras kami demi kecintaan kami sebagai putera-puteri Majalengka yang ingin mengabdi pada masyarakat. Meski setiap kegiatan selalu ada celah yang tidak luput dari sebuah kesalahan dan kekurangan. Tapi kekurangan tersebut dapat terus kita perbaiki dengan semangat duduluran untuk kesuksesan-kesuksesan yang lain. "Kegagalan diciptakan sebagai jalan menuju suatu Kesuksesan".  

oleh : Dwi Aprianti Sumantri

Selasa, 11 Oktober 2011

Seminar Budaya


kebudayaan sangatlah berpengaruh terhadap karakteristik bangsa, maka dari itu banyak orang yang secara langsung mempertahankan kebudayaan yang makin hari makin dilupakan oleh sebagian orang. salah satu cara untuk memberikan kekuatan yang besar terhadap pertahanan budaya yang mulai hilang, maka harus ditampakan dari mulai dini.
ini di buktikan pada 15 Januari 2011, aula DISPORABUDPAR majalengka menjadi saksi puluhan siswa dan siswi seluruh SMA di Majalengka mengikuti seminar budaya yang dilaksanakan oleh Himpunan Mahasiswa Majalengka Bandung. Acara dibuka oleh Kepala DISPORABUDPAR, Drs. H. Rieswan Graha, MM yang mewakili Bupati Majalengka.

"acara ini bertujuan untuk memberikan pengetahuan kepada para siswa tentang budaya-budaya majalengka yang mulai terlupakan", papar  Ketua Umum HIMMAKA Bandung, Iir Hariman, dalam sambutannya. Terdapat banyak sekali penampilan-penampilan dari beberapa kebudayaan khas majalengka, seperti Gemyung, Tari Beber dan Batik Majalengka.
Seminar Budaya inipun mempunyai tujuan untuk mengenalkan Batik Majalengka yang tidak banyak warga majalengka tahu adanya, disinilah para siswa diberikan pengenalan tentang pembuatan Batik oleh Bpk. Heri Suhersono yang menggagas batik majalengka.
acara ini sekaligus memberikan wadah bagi para siswa untuk mengenal budaya melalui media yang dimiliki HIMMAKA Bandung, dan menjadikan sebuah perkumpulan para siswa dalam MASCOT atau Majalengka Student Community yang pernah diadakan saat kegiatan LDKS 2010.
semoga acara seminar budaya menjadi daya dorong para generasi muda untuk lebih melestarikan dan menjaga kebudayaan leluhur, karena pentingnya sebuah karakter bangsa.

oleh

Degi Ergiawan M


Bakti Mahasiswa untuk Majalengka



Mahasiswa sebagai insan akademis tentulah memiliki tanggungjawab untuk mengembangkan dan memajukan daerah. Maka pemikiran dan tercipta daya kretifitas untuk membangun daerah yang dicintainya akan senantiasa ada. Hal tersebut tentunya tidak bisa dilaksanakan secara individu, tetapi harus dilakukan bersama-sama dengan segenap komponen yang ada, baik itu di level formal maupun informal.
Himpunan Mahasiswa Majalengka (HIMMAKA) Bandung mengadakan suatu kegiatan mulia yaitu bakti sosial, bertemakan “Memasyarakatkan Mahasisiwa” yang dilaksanakan pada 19 juni sampai 9 juli 2011 di Desa Randegan Wetan Kecamatan Jatitujuh Kab. Majalengka.
Kegiatan yang dibuka oleh Wakil Bupati Majalengka ini mempunyai tujuan untuk menumbuh kembangkan rasa dan jiwa sosial anggota HIMMAKA Bandung terhadap daerah asalnya yakni Kabupaten Majalengka. Kegiatan yang merupakan ikhtiar menciptakan kader anggota HIMMAKA yang memiliki kepekaan terhadap gejala sosial dalam kehidupan masyarakat maupun dalam lingkup pemerintahanan. Kemuadian menyalurkan dedikasi mahasiswa sebagai agen perubahan (agent sosial of change), ditujukan untuk kemajuan daerah.
Selama 21 hari, mahasiswa berbaur dengan masyarakat dan aparat pemerintahan setempat mengadakan kerja bakti sosial. Khususnya dalam hal kegiatan yang merupakan tugas pokok dan fungsi sejumlah lembaga birokrasi di Kab. Majalengka. Selama pelaksanaannya, kegiatan ini mengemas sejumlah mata acara yang cukup menarik dan mengesankan. Sedikitnya terdapat tiga bentuk kegiatan yang dikembangkan, yakni bidang pendidikan, bidang keagamaan dan bidang kemasyarakatan serta pemerintahan.
Bidang pendidikan diaplikasikan lewat kegiatan memberi pengajaran bagi siswa di Sekolah Dasar (SD) dan Madrasah Ibtidaiyah (MI), Kursus Bahasa Inggris dan Arab, serta pengenalan Teknologi Informasi (IT). Bidang keagamaan meliputi kegiatan ceramah (pengajian) rutin, memberi pengajaran mengaji kepada anak-anak, diskusi dengan remaja mesjid, perlombaan keagamaan dan tabligh akbar. Bidang kemasyarakatan dan pemerintahan meliputi kegiatan penyuluhan manajemen karang taruna (KT), penyuluhan prilaku hidup bersih dan sehat, penyuluhan UU pernikahan, pelatihan pemberdayaan analisis potensi SDA dan SDM Desa Randegan Wetan, perlombaan atau hiburan serta kerja bakti bersama masyarakat setempat.
Semoga apa yang sudah dilakukan HIMMAKA Bandung bisa mendorong kembali semangat membangun desa bagi masyarakat setempat dan memberi manfaat untuk kemajuan pembangunan Desa Randegan Wetan dan Majalengka.

Minggu, 06 Juni 2010

Sejauh mana situs pembelajaran bagi siswa

Semaraknya situs atau website pendidikan dewasa ini, baik yang mencakup pendidikan umum maupun permata pelajaran, patut disambut dengan gembira. Hal ini menunjukkan adanya inovasi di bidang pendidikan, dan sejalan dengan berkembangnya model pembelajaran di Indonesia. Situs-situs pembelajaran tersebut bisa digolongkan kepada model pembelajaran e-learning, yaitu pembelajaran yang pelaksanaannya didukung oleh jasa elektronika seperti telepon, audio, vidiotape, transmisi satelit atau computer (Soekartawi, 2007: 25). Pada awalnya model e-learning ditujukan untuk pelaksanaan pendidikan jarak jauh (PJJ). Tujuan dari penyelenggaraan e-learning untuk PJJ sangat jelas, yaitu untuk memudahkan para siswa mengakses pendidikan jarak jauh dari gurunya. Seiring dengan kemajuan teknologi yang begitu pesat, kini e-learning tidak hanya digunakan oleh mereka yang mempunyai masalah karena terpisahnya siswa dan guru oleh jarak yang jauh, tapi sudah mulai marak digunakan oleh para guru dan siswa yang setiap harinya selalu bertatap muka dan bersinggungan badan di dalam kelas. Saya berpendapat, fenomena ini adalah sebuah kemajuan di bidang pendidikan.
Melihat fenomena seperti itu, kita berharap pendidikan di Indonesia maju pesat secepat majunya teknologi komunikasi dan informasi. Tapi saya pun berpendapat, bahwa lebih baik kita jangan dulu silau oleh hal-hal yang berbau modern dan canggih. Sebelum mengaplikasikan sebuah media untuk pelaksanaan pembelajaran, kita harus berpikir jernih dan cermat, sejauh mana manfaat media itu untuk anak didik kita? Bila model pembelajaran beserta media yang kita gunakan itu member banyak manfaat untuk siswa dan gurunya, kita bisa menetapkan dan memilihnya sebagai model dan media yang akan selalu kita gunakan di setiap kegiatan belajar mengajar. Tapi apabila model beserta media tersebut kurang praktis, tidak efektif dan tidak efisien bila diterapkan di dalam proses belajar mengajar guru dan siswa, kenapa harus dipaksakan? Sebelum melaksanakan pembelajaran, seorang guru (tentu saja bukan guru bidang IT/ ICT) harus mengetahui betul tujuan akhir dari pelaksanaan pembelajaran pada hari itu. Seorang guru juga harus mengetahui betul kondisi anak didiknya pada saat pelaksanaan pembelajaran.
Bila ternyata e- learning adalah model pembelajaran yang tidak sesuai dengan kondisi anak didiknya, jangan ragu untuk meninggalkan model tersebut. Jangan takut dicap sebagai guru yang kuno, konvensional, dan tidak inovatif, sebab keadaan sosial ekonomi anak didik kita beserta karakteristiknya hanya kitalah yang tahu. Dan seorang guru harus mengetahui pula, bahwa e- learning pun selain mempunyai kelebihan tentu saja ada kekurangannya. Nah yang perlu kita pertimbangkan sebelum mengaplikasikan model pembelajaran ini adalah mengenai kekurangannya. Sementara di lapangan, model pembelajaran e-learning cenderung dipaksakan. Saya melihat, mereka yang melaksanakan model e-learning ini belum sepenuhnya paham akan tujuan dari pengunaan model pembelajaran ini, dan tidak memperhatikan kondisi social ekonomi maupun karakteristik anak didiknya. Model Pembelajaran e-learning yang digunakan di sebuah sekolah pada saat ini yaitu model pembelajaran dengan media webblog. Di luar jam sekolah anak didik diperintahkan oleh gurunya mengunjungi satu webblog yang berfungsi sebagai alat transfer materi pelajaran. Atau seorang guru bisa juga langsung menugaskan kepada muridnya agar mengirimkan hasil pekerjaannya (tugas) ke alamat e-mail atau ke alamat sebuah website, juga pada saat murid sedang berada di luar sekolah. Sepintas kegiatan tersebut tampak baik dan canggih. Baik guru maupun murid sama-sama merambah internet dalam pelaksanaan pembelajaran. Tapi bila kita cermati, ada yang perlu dipikirkan dengan seksama. Sejauh mana kemajuan hasilnya bila dibandingkan dengan model pembelajaran tatap muka? Temuan saya di lapangan tentang belum maksimalnya model e-learning ini adalah sebagai berikut.
• Pengelolaan webblog yangserampangan, baik isi, disain, maupun tampilannya tidak sesuai dengan visi dan misi pendidikan.
• Bahasa yang digunakan di dalam setiap materi yang di-posting di blog atau website tersebut belum mencerminkan bahasa intelektual.
• Seorang guru yang baru melek internet, belum menguasai betul bahasa komputer maupun bahasa HTML (Hyper Text Markup Language), sudah memaksakan diri menyelenggarakan e-learning, sehingga bila muncul masalah teknis tidak mengantisipasi dan tidak segera memperbaikinya, tapi dibiarkan berlarut-larut menunggu datangnya seorang teknisi.
• Ketidak jelasan tujuan pembelajaran. Hal ini terlihat dari ketidak seriusan guru tersebut dalam mengolah hasil akhir penggunakan webblog.
• Guru tidak konsekwen dalam pelaksanaan e-learning. Hal ini terlihat dari tidak adanya pemberitahuan kepada anak didik tentang kesimpulan atau hasil dari penggunaan model pembelajaran tersebut.
• Guru tidak peduli akan kondisi sosial ekonomi anak didik. Seringkali seorang guru menugaskan anak didiknya untuk mengirimkan tugas melalui alamat e-mail dan website di luar sekolah, itu berarti setiap anak didik harus mengunjungi warnet, dan berarti pula mereka harus mengeluarkan biaya. Bayangkan bila semua guru mata pelajaran menugaskan siswa-siswanya seperti itu, berapa rupiah yang harus dikeluarkan oleh seorangsiswa hanya untuk memberikan hasil pekerjaannya? Untuk anak-anak yang orang tuanya tergolong mampu tentu saja bukan masalah, tapi bagaimana dengan anak-anak golongan ekonomi lemah?
• Guru tidak peduli pada beragam karakter anak didik. Bahwa sifat siswa itu sangat beragam: yang malas, yang rajin, yang cepat tanggap, yang lambat menerima materi pelajaran maupun melaksanakan instruksi, pasti selalu ada dalam sebuah kelas. Bila tugas yang diberikan kepada anak didik itu tugas kelompok, guru akan lebih sulit lagi mengetahui, karya siapa sebenarnya tugas itu. Untuk seorang murid yang malas, jangankan mengerjakan tugas di luar sekolah, di dalam sekolah pun yang tak lepas dari pengawasan guru, mereka enggan mengerjakannya. Oleh karena itu Soekartawi berpendapat, siswa yang tidak mempunyai motivasi belajar yang tinggi, bila diajak belajar melalui e-learning, dia cenderung gagal. Kesimpulannya, metode dan model pembelajaran konvensional (tatap muka) sampai hari ini masih diakui lebih unggul dibandingkan model pembelajaran jarak jauh. Tapi bukan berarti penggunaan e-learning di mana interaksi guru dan siswa terhalang oleh sebuah website adalah buruk. Yang perlu diperhatikan dan dipikirkan, model pembelajaran apa pun yang akan digunakan, perlu perencanaan dan persiapan yang matang.

Ajat Heryana (Alumni HIMMAKA Bandung)

Senin, 03 Mei 2010

Hari Pendidikan Nasional

2 Mei , kembali kita memperingati Hari Pendidikan. Momentum seperti ini, mesti nya mampu mengajak kepada seluruh warga bangsa untuk merenung ulang sekaligus mempertanyakan apakah pendidikan yang dilakukan sudah memberi "pencerdasan" bagi kita semua ? Benarkah sistem pendidikan yang kita tempuh sudah seirama dengan semangat yang terkandung dalam Pembukaan UUD 1945, dimana salah satu harapan nya adalah "mencerdaskan kehidupan bangsa". ? Sudahkah bangsa kita secerdas yang diimpikan ? Apakah dengan ditetapkan nya anggaran pendidikan sebesar 20 %, sebagaimana yang ditegaskan dalam UU Pendidikan Nasional, telah membawa banyak perubahan di dalam dunia pendidikan, dibandingkan ketika anggaran pendidikan dalam APBN/D belum di patok pada angka 20 % ? Dan persoalan lain nya lagi yang dapat kita kemukakan pada hari ini, tatkala bangsa kita sedang memperingati Hari Pendidikan Nasional.

Berbagai hal yang dikemukakan diatas, kelihatan nya lepas pas kita sebut sebagai sebuah "gugatan" ketimbang sebuah masalah yang ingin diutarakan. Pendidikan, apakah yang sifat nya formal, in formal atau non formal, pada hakekat nya ditujukan untuk menciptakan sumber daya manusia yang semakin berkualitas. Pendidikan juga dimaksudkan untuk membebaskan warga bangsa dari "dunia kebodohan" dan ketertinggalan. Bahkan melalui pendidikan inilah kita berkeinginan agar kemiskinan masyarakat dapat dihapuskan. Hal ini penting dipahami, karena salah satu penyebab kemiskinan adalah dikarenakan tingkat pendidikan yang rendah. Dari situlah kemudian lahir istilah "lingkaran setan kemiskinan yang tak berujung pangkal". Orang hidup miskin, karena pendidikan yang rendah. Dengan pendidikan yang rendah, orang tersebut menjadi tidak mendapatkan pekerjaan. Karena tidak ada pekerjaan, maka pendapatan nya pun rendah atau bahkan sama sekali tidak ada. Kalau tidak ada pendapatan, maka orang itu tentu miskin. Inilah "the vicious circle of poverty".

Dalam peringatan Hari Pendidikan yang sekarang, ada baik nya kita secara fokus melakukan"penajaman" terhadap penggunaan 20 % anggaran sesuai yang diamanatkan UU Pendidikan Nasional. Disini penting dipersoalkan apakah dana 20 % itu diperuntukan untuk Kementrian Pendidikan Nasional dan "anak gugus" nya hingga ke Provinsi dan Kabupaten/Kota, atau kah dapat dimanfaatkan oleh Kementrian mana pun selama substansi nya terkait dengan hakekat dan makna pendidikan ? Pengalaman selama ini, yang nama nya anggaran 20 % itu memang seolah-olah dikelola hanya oleh Kementrian Pendidikan dan Dinas Pendidikan, baik di Provinsi mau pun Kab/Kota. Akibat nya wajar jika kesan "kebanjiran" uang pun mengemuka, yang terkadang menimbulkan kecemburuan dari Dinas-Dinas yang tidak kebagian anggaran. Yang mengenaskan, ternyata tidak semua daerah siap mendaya- gunakan anggaran yang diberikan. Mereka kelihatan nya tidak memiliki program yang mampu bersifat terobosan. Mereka lebih senang melakukan yang biasa-biasa saja. Bahkan budaya "copy-paste" terhadap program tahun anggaran sebelum nya, bisa saja terus terjadi.

Dalam hal ini mereka sudah relatif canggih, khusus nya dalam memainkan angka persentase dalam penetapan pagu anggaran. Yang menggelikan adalah ada nya fakta bahwa penambahan jumlah anggaran tidak seiring dengan pengembangan program yang dibutuhkan. Tambahan anggaran yang cukup spektakuler kurang diimbangi oleh kesiapan aparat untuk mau berkreasi dan berimprovisasi dalam melahirkan beragam inovasi. Akibat nya, wajar-wajar saja jika di berbagai daerah ditemukan fenomena bahwa naik nya anggaran pendidikan, tidaklah signifikan dengan peningkatan indeks pendidikan dalam ukuran Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Malah agak mencengangkan pula ada daerah yang anggaran pendidikan nya meningkat, namun indeks pencapaian IPM nya malah menurun dan tidak sesuai target yang ditetapkan. Ironis, memang ! Mudah-mudahan saja, ke depan hal-hal yang demikian tidak terus berulang, namun akan mampu kita gantikan dengan suasana yang diharapkan. Kita ingin agar efektivitas dan efesiensi anggaran tetap terkontrol. Kita ingin agar niat baik untuk menambah jumlah anggaran pendidikan sebesar 20 % ini, benar-benar transparan dan akuntabel. Dan kita juga berkeinginan, agar pendidikan yang kita lakukan, mampu membebaskan warga bangsa dari belenggu kebodohan dan kemiskina. Selamat berhari Minggu,....Salam

Ajat Heryana (Alumni HIMMAKA Bandung)

Jumat, 16 April 2010

Sekretaris Umum HIMMAKA Bandung

BIODATA
Nama Lengkap         : Iir Hariman
Tempat/Tgl.lahir        : Majalengka/28 juli 1988
Alamat asal               : RT/RW 001/003 Desa Kancana kecamatan Cikijing Kabupaten Majalengka
Alamat Sekarang       : Asrama Pameuntasan Komplek Cipadung Permai Kelurahan Cipadung Kecamatan Cibiru                         Kota Bandung
No. Kontak              : 08996854377

RIWAYAT PENDIDIKAN
SD/MI                          : SDN Kancana Kecamatan Cikijing Tahun 1995-2001
SLTP/MTs                    : MTs PUI Kancana Kecamatan cikijing Tahun 2001-2004
SLTA                            : SMAN 1 Cikijing Kabupaten Majalengka Tahun 2004-2007
Perguruan Tinggi             : Fakultas Syari'ah dan Hukum UIN Sunan Gunung Djati bandung 2007- Sekarang

Pengalaman Organisasi
1. Sekretaris OSIS MTs PUI Kancana Tahun 2002-2003
2.Pramuka MTs PUI Kancana
3. OSIS SMAN 1 Cikijing
4. SUCIPALA (SMAN Cikijing Pecinta Alam)
5. HIMA Ahwal Syakhsiyah (Kabid Minat dan bakat tahun 2009-2010)
6. HMI Komisariat Syari'ah dan Hukum
7. HIMMAKA Bandung (Anggota bidang Nalar Intelektual tahun 2008, Sekbid Minat bakat Tahun 2009, Sekretaris Umum Tahun 2009-2010)

Motto Hidup : Manusia yang beruntung adalah manusia yang lebih baik dari hari-hari sebelumnya.